September 24, 2018

Sign in

Sign up

Hasil Evaluasi Ikan Kerap Mati Massal, KKP: Danau Juga Butuh Waktu Bernapas

By on September 13, 2018 0 15 Views



JAKARTA – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menerbitkan kalender prediksi kematian ikan secara massal untuk budidaya Keramba jaring Apung (KJA). Upaya ini dimaksudkan untuk mencegah dan mengendalikan peristiwa kematian massal ikan kembali terjadi.

Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia KKP Sjarief Widjaja memaparkan, selain kalender prediksi kematian ikan massal pada budidaya KJA, KKP juga memberikan skema alur penangan kematian ikan massal yang berisikan data dan informasi penyebab kematian ikan massal.

“Kalender prediksi dan skema alur penangan ini dapat membangun kesadaran pembudidaya dan para pengambil kebijakan untuk tidak menganggap sepele setiap kasus kematian massal,” kata Sjarief di Gedung Mina Bahari III, KKP, Kamis (13/9/2018).

Berdasarkan penelitian di lapangan, terdapat tiga kategori dalam kalender prediksi kematian ikan secara massal untuk budidaya Keramba jaring Apung (KJA), meliputi kategori aman, waspada, dan bahaya.

 

Untuk kategori aman, berlangsung selama bulan Februari hingga Juni. Sjarief menuturkan, pada masa ini, pembudidaya dapat melakukan kegiatan budidaya sesuai dengan standar dan daya dukung serta zonasi yang telah ditentukan.

Sedangkan kategori waspada, terjadi selama bulan Oktober hingga Januari. Pada periode ini, pembudidaya diminta untuk mengurangi pemberian pakan, mengurangi padat tebar ikan dalam KJA atau melakukan panen lebih awal, serta memperhatikan perubahan kondisi lingkungan perairan.

Lalu, pada bulan Agustus hingga September masuk dalam masa bahaya. Sehingga, pembudidaya KJA diharapkan melakukan pemanenan ikan siap panen, menghentikan kegiatan budi daya atau mengurangi padat tebar ikan.

 

Mereka juga diimbau untuk memperhatikan ukuran ikan yang ditebar, memelihara ikan yang tahan terhadap kondisi perairan yang jelek, penambahan aerasi, dan relokasi KJA ke lokasi yang lebih dalam.

“Agustus sampai September pasti ada upwelling (fenomena di mana kondisi perairan yang lebih dingin) ke semua danau dan waduk,” papar Sjarief.

KKP juga memberikan rekomendasi penggunaan tanaman enceng gondok untuk mengantisipasi kematian ikan secara massal pada budidaya KJA di danau atau waduk. Sebab, tanaman enceng gondok memiliki kemampuan menyerap logam berat serta residu pestisida sehingga bisa memperbaiki kualitas air.

 

Selai itu, lanjut Sjarief, untuk mengurangi dampak negatif pakan ikan sisa, dapat dilakukan dengan menerapkan budi daya ikan dalam KJA ganda. Dengan sistem itu, ikan dalam jaring lapis kedua (bagian luar) yang tidak diberi makan hanya mengandalkan makanan sisa dari ikan utama pada jaring lapis kesatu (bagian dalam).

Adapun rekomendasi ini akan disampaikan kepada seluruh pembudidaya KJA terutama untuk pembudi daya di enam danau dan waduk, yaitu Waduk Jatiluhur, Waduk Cirata, Waduk Saguling, Danau Toba, Danau Maninjau, dan Waduk Kedungombo.

“Dalam satu tahun, tidak semua bulan bisa ditanami (budi daya). Ada masanya, danau itu butuh masa untuk bernapas,” tukas dia.

(kmj)