July 20, 2018

Sign in

Sign up

  • Home
  • Ekonomi
  • BPPT kaji pembangkit panas bumi daerah terpencil

BPPT kaji pembangkit panas bumi daerah terpencil

By on June 11, 2018 0 17 Views

BPPT

Jakarta (DatangLagi.com) – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengkaji penerapan teknologi pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) skala kecil untuk kawasan terpencil di Indonesia.

“Sebenarnya potensi panas bumi ada di banyak tempat di Indonesia. Seharusnya dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat setempat, khususnya untuk wilayah perbatasan dan terpencil,” kata Kepala BPPT, Unggul Priyanto saat melakukan kunjungan kerja ke area Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Lahendong, atau Lahendong Binary Plant, Tomohon, Sulawesi Utara seperti dikutip dari laman bppt.go.id, Jumat.

Energi panas bumi, kata Kepala BPPT Unggul, menjadi pilihan untuk menggantikan energi diesel yang masih digunakan pada kawasan kepulauan seperti Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, serta di Maluku yang selama ini pun masih kurang memadai.

“Selama ini, pembangkit listrik tenaga panas bumi skala kecil tidak pernah dibangun karena dinilai tidak ekonomis, padahal bermanfaat bagi masyarakat kepulauan dan perbatasan,” katanya.

Menurut dia, pembangkit listrik tenaga panas bumi sebenarnya bisa lebih ekonomis jika semua komponen diproduksi oleh perusahaan di dalam negeri.

Saat ini PLTP Lahendong mampu menghasilkan energi listrik sebesar 500 kW yang cukup untuk mengaliri kebutuhan dasar listrik untuk 500 rumah.

Kerja sama operasi BPPT, PLTP Lahendong dan PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) sebagai pemilik kawasan tempat sumur panas bumi ini, ujar dia, juga memiliki tujuan penting dalam rangka meningkatkan penguasaan teknologi oleh industri dalam negeri.

Sementara itu, Kepala Balai Besar Teknologi Konversi Energi BPPT, Andhika Prastawa menerangkan bahwa PLTP binary cycle mimiliki keunggulan dibanding PLTP konvensional, yakni lebih efisien dan mampu meningkatkan kapasitas pembangkitan.

“PLTP Binary Cycle memanfaatkan uap panas bumi yang basah yang tidak bisa digunakan PLTP konvensional. Kemudian bisa digunakan untuk memanfaatkan air panas sisa PLTP yang konvensional. Sehingga menambah efisiensi total dan menambah kapasitas pembangkitan,” terangnya.

Harapannnya, lanjut Andhika, dengan beroperasinya ini dapat digunakan sebagai model pemanfaatan sumur panas bumi dengan uap basah yang menjadi karakteristik kebanyakan sumber panas bumi di Indonesia terutama di Sumatera dan Sulawesi.

Andhika menargetkan pada 2018 tahap uji coba bisa selesai, lalu selanjutnya bisa segera dioperasikan.

  Ekonomi